Perlukah PHK karyawan saat ini?3 min read

Membaca salah satu berita di koran online yang menyatakan bahwa diperkirakan 25 Juta orang akan di PHK terkait imbas dari wabah Covid 19 ini.  Kondisi tersebut membuat kita merasa miris. Sejalan ditengah upaya pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi di angka 7%, alih-alih Menteri keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi akan minus 0,4% bahkan beberapa ahli ekonomi menyatakan kemungkinan lebih buruk dari itu.

Pengusaha juga sedang mumutar otak mereka untuk bisa mempertahankan bisnis di era krisis yang belum tau sampai kapan akan berakhir. Upaya yang dilakukan pengusaha dikenal dengan BCP (Business Continuity Plan) atau melakukan strategi cepat untuk membuat perusahaan tetap bisa hidup walaupun tanpa ada penjualan sama sekali.

Perusahaan ketika dihantam krisis, maka langkah awal yang dilakukan adalah mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu untuk mengurangi beban cash flow. Langkah paling umum  yang dilakukan adalah mengurangi karyawan dan ini langkah yang paling mudah. Namun sebaliknya, ada pengusaha yang melakukan upaya untuk memanfaatkan asset yang ada untuk digunakan menjalankan bisnis lainnya di luar  bisnis inti mereka.

Sesuai judul tulisan ini, pertanyaannya adalah Mengapa kita harus memPHK karyawan? dan jawaban paling panyak yang muncul adalah

  1. Tidak memiliki penghasilan untuk menggaji karyawan
  2. Harus menyelamatkan cash flow perusahaan
  3. Mempertahankan perusahaan agar tetap ada
  4. Karyawan tidak akan produktif kerja di rumah
  5. Sulit mengontrol karyawan ketika kerja dirumah
  6. Pekerjaan ini tidak bisa di lakukan ketika ada dirumah
  7. Dan jawaban-jawaban lainnya

Simom Sinek dalam bukunya “ Start with Why” mengatakan bahwa untuk merubah perilaku maka dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

  1. Memanupulasi ( Manipulated )
  2. Mengispirasi ( Inspired )

Memanupulasi adalah tindakan seperti yang dilakukan sebagian orang di saat krisis yaitu mengurangi biaya agar profit tetap ada atau agar cash flow tetap cukup untuk biaya operasional. Sebagian besar pengusaha ketika krisis datang maka yang di munculkan dahulu adalah “ HOW” bagaimana agar kita bisa tetap bertahan ? dan “ WHAT” apa yang dilakukan untuk bisa tetap bertahan?

Maka tindakan yang muncul bersifat manupalatif yaitu mengurangi biaya, menahan investasi, yang  intinya adalah profit atau minimal tidak rugi. Segala perilaku yang muncul dari “ HOW” dan “WHAT” bersifat kasat mata yang bisa tampak secara langsung.

Coba sekarang rubah pertanyaan menjadi “WHY”, Mengapa karyawan harus tetap ada diperusahaan ? seorang pemilik perusahaan harus bisa menjawab dengan nilai atau bahasa perjuangan yang bisa membuat semua karyawan bisa terinspirasi. Dengan inspirasi maka mereka akan ikut membantu perusahaan keluar dari krisis yang sekarang sedang terjadi.

Ketika krisis terjadi maka pemilik atau pemimpin perusahaan harus mendatangi karyawan dan menanyakan “ WHY”, Mengapa kita harus tetap mempertahankan karyawan disaat kiris saat ini? Maka pertanyaan berikutnya “ HOW” bagaimana agar karyawan masih tetap bisa bertahan dan “ APA” langkah yang harus dilakukan agar karyawan tetap harus bekerja dan mendukung perusahaan.

Kita akan melihat bahwa pertanyaan “ WHY” ini akan mengispirasi karyawan untuk melakukan sesuatu bersama-sama dengan pemilik untuk menyelamatkan perusahaan. Pemilik juga bisa mangatakan bahwa perusahaan ini hadir untuk membantu banyak orang termasuk bagaimana perusahaan ini harus tetap hidup untuk bisa menghidupi keluarga dan anak-anak mereka.

Maka tindakan yang muncul juga akan terinspirasi dengan pertanyaan “WHY”. Inilah yang dikatakan Simon Sinek sebagai kesesuain antara jiwa yang ada dalam perusahaan dengan tindakan yang akan dilakukan. Setiap karyawan akan terinspirasi dan mau melakukan perjuangan untuk bisa sama-sama melakukan program penyelamatan.

Mungkin “HOW” yang akan muncul setiap karyawan akan rela tidak digaji full atau karyawan akan berusaha membantu pengusaha mencari penghasilan lain. Sedangkan “ APA” yang dilakukan tidak akan jauh dengan tema perjuangan yang dituangkan dari pertanyaaan “ WHY” tadi.

Kesimpulannya di saat krisis, maka ajak semua karyawan untuk berdiskusi. Sedangkan  seorang pemimpin harus menjelaskan “WHY” dan dapat memunculkan tema perjuangan atau nilai normatif. Sehingga  semua tindakan dilakukan dengan sukarela tanpa tekanan dan menghindari konflik antara karyawan den pemilik perusahaan. Tindakah yang timbul karena terinpirasi akan lebih langgeng dan tahan lama dibandingikan dengan cara manipulatif.

Selamat Mencoba

Widiantoro Baroto

CEO & Business Coach

Tinggalkan Komentar

Dapatkan Ebook Eksklusif

"CEO cukup bekerja 2 jam sebulan dengan menerapkan 5 tools ini" sekarang, GRATIS

we respect your privacy and take protecting it seriously