Pertolongan Allah Itu Dekat (Pelajaran dibalik bencana Virus Covid 19)8 min read

Sejak merebaknya virus corona ( covid 19) ini, banyak dari kita merasa berat dalam menjalani kehidupan. Yang paling terasa dalam kehidupan kita adalah penghasilan yang semakin menurun. Sektor yang paling terpukul akibat Virus corona ini adalah sektor informal dan usaha mikro menengah.

Sektor informal yang dihuni oleh pekerja yang bekerja hari ini untuk makan hari ini sedangkan sektor usaha mikro menengah adalah para pelaku bisnis yang cash flow nya mungkin hanya bisa bertahan 1 ( satu) atau 2 (dua) bulan kedepan. Ketika bencana virus ini berlangsung sampai 3 bulan kedepan maka mereka tidak memiliki penghasilan dan tidak punya cukup modal untuk menopang bisnisnya.

Banyak dari mereka sudah melakukan PHK terhadap karyawan mereka. Berdasarkan data kementrian UMKM pada sektor informal dan sektor mikro menengah ini menyerap lebih dari 140 juta pekerja yang merupakan 54% dari populasi penduduk Indonesia. Sekarang betapa besar kontribusi mereka pada negara.

Inilah yang kita pahami mengapa berat bagi pemerintah sekarang untuk melakukan totally lock down yang akan banyak sekali memukul sektor ekonomi. Ditambah negara ini tidak memiliki sistem jaminan sosial yang baik, dimana apabila tidak bekerja, negara bisa memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat. Inilah mengapa kereta commuter line tetap penuh dan orang-orang masih berkeliaran di luar karena mereka harus makan hari ini. Sebagian mereka berpikir dirumah adalah masalah bagi mereka karena mereka harus menghidupi keluarganya.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak di sumbang oleh kelas menengah yang sekarang mendekati 50% dari total penduduk Indonesia dan angkanya terus meningkat. Kalau dengan asumsi penduduk Indonesia sekarang 260 juta, maka kelas menengah ini hampir 130 juta penduduk. Mengapa kelas menengah ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi? Hal ini karena mereka melakukan belanja atau konsumi rata-rata antara 2 juta sampi 3 juta per bulan. Budaya konsumtif masyarakat inilah yang menyelamatkan beberapa krisis yang di alami Indonesia seperti tahun 2008 dan 2013.  Bahkan pemerintah menerapkan keep buying strategy yang sebagian besar karena perilaku kelas menengah ini.

Namun dalam bencana corona ini, maka ruang gerak manusia dibatasi sehingga membuat semua sektor harus menahan diri. Hal ini tidak memungkinkan kelas menengah untuk tetap perilaku konsumtif, hal tersebut dikarenakan sektor produksi juga dipaksa berhenti karena wabah ini. Sebagian besar kelas menengah sekarang berusaha menabung dan menyediakan cadangan dana untuk persiapan seandainya wabah ini cukup lama bertahan di Indonesia.

Mekanisme pasar akan berlangsung dimana demand akan berkurang dan supply juga berkurang sehingga inflasi akan terjadi. Kita sudah mulai merasakan gula yang langka dan beberapa kebutuhan pokok meningkat.

Parahnya lagi sektor manufaktur di Indonesia juga belum begitu kuat dimana sebagian bahan pokok bahkan masih import dari luar negeri. Ketika masker, alat pelindung diri dan alat test covid 19 kita harus juga import dari cina untuk memerangi wabah ini, maka  makin menambah deretan import yang harus dilakukan Indonesia. Wajarlah sekarang nilai tukar kita semakin melemah terhadap USD ( 17.000 per USD) karena ini merupakan salah satu pengaruh dari nilai import kita yang masih tinggi.

Indikator krisis ekonomi menurut para ahli ekonomi adalah ketika inflasi sudah mulai terjadi dan nilai tukar rupiah sudah mulai melemah. Karena inflasi maka cadangan uang atau tabungan masyarakat akan terkuras karena harus membeli harga lebih mahal. Sedangkan para pelaku usaha tidak memiliki pemasukan dan kehabisan modal untuk menjalankan usahanya. Oleh karena itu, pemerintah sekarang banyak melakukan intervensi berupa tunjangan bagi yang PHK 1 juta per bulan dan beberapa insentif lainnya seperti penundaan pembayaran hutang bagi sektor mikro dan menengah. Bahkan kementrian tenaga kerja sudah mengeluarkan peraturan Menteri yang memberikan peluang bagi pengusaha untuk bernegosiasi dengan karyawan terkait dengan waktu jam kerja dan penurunan gaji sebagai imbas dari bencana virus corona ini.

Jadi sebenarnya yang ditakuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah kematian akibat terifeksi virus corona namun sebagian besar masyarakat lebih takut dengan tekanan ekonomi yang akan terjadi. Apabila kelas menengah 50% dari total penduduk dan kelas bawah 30% dari total penduduk maka hampir 80% total penduduk Indonesia akan sangat jatuh level ekonominya. Hal ini menimbulkan bencana ekonomi selain bencana Virus corona itu sendiri. Mungkin bencana ini juga akan mengarah pada bencana politik yang sangat di takutkan oleh para petinggi negara ini.

Bagaimana sikap kita sekarang menyikapi semua bencana covid 19 dan bencana-bencana turunan yang akan terjadi? Apakah benar dengan sikap tawakal atau berserah diri saja ? Apakah kita harus mencari kambing hitam dan menyalahkan banyak orang termasuk pemerintah? Ataukan kita kembali melihat diri kita masing-masing apa yang bisa kita lakukan sebagai pribadi ?

Pendekatan Teologi :

Solusi Al-quran atas bencana ini :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Arti: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali -Imran Ayat 142)

Perlu kita sadari bahwa apapun bencana yang terjadi adalah ujian bagi umat manusia (Surat Al-Mulk ayat 2). Dari ujian yang kecil, menengah sampai dengan besar merupakan seleksi siapa saja yang lebih baik amalnya. Sehingga bencana ini sebenarnya ajang bagi setiap individu untuk meningkatkan amal baik yang sifatnya ruhiah maupun sosial. Untuk kesolehan pribadi mungkin sudah banyak yang tau apa yang harus dilakukan dengan amalan-amalan memperbanyak sholat sunah, tahajud, sholat 5 waktu, istighfar dan amalan lainnya.

Hal yang paling penting dibutuhkan  dalam kondisi saat ini adalah kesolehan sosial kita dalam masyarakat. Data statistik sekarang masih menunjukan bahwa ekonomi Indonesia saat ini masih didominasi oleh kelas atas yang mencapai 20% dari total populasi penduduk Indonesia. Mereka yang selama ini paling menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mereka memiliki faktor produksi terutama modal dan akses sumber daya alam. Sehingga ketika terjadi krisis ekonomi mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan dari perilaku konsumtif kelas menengah Indonesia yang mencapai 50% total penduduk tersebut. Inilah yang dikatakan yang kaya semakin kaya karena imbas dari perilaku konsumtif masyarakat Indonesia. Sehingga krisis ekonomi pada umumnya akan tidak terpengaruh.

Ujian virus corona ini tidak mempertimbangkan ras, suku dan agama bahkan status sosial tertentu. Semua orang memiliki potensi tertular dan memiliki tingkat penularan yang massive dan cepat. Karena para kelas menengah yang sebagian besar berprofesi sebagai pegawai mereka sangat faham atas bahaya dari covid 19 ini dan mereka dengan sadar melakukan social distancing. Sedangkan kelas atas yang sebagian besar adalah pemberi kerja juga tidak mau kehilangan kekayaannya sehingga melakukan banyak pemutusan hubungan kerja. Disinilah yang terjadi ketika kesolehan sosial harus lebih dikedepankan dibandingkan kesolehan pribadi. Bahkan untuk menanggulangi wabah ini kita harus punya kesungguhan yang tinggi untuk berkontribusi.

Dalam  surat Ali-Imran ayat 142 minimal ada 2 (dua) hal yang harus dilakukan apabila kita ingin merengkuh kebahagiaan kita di masa yang akan datang dan keluar dari wabah ini dengan cepat. Social distancing, budaya rajin mencuci tangan dan tindakan-tindakan yang lainnya sudah menjadi cara umum untuk mengurangi penularan virus ini. Namun yang lebih penting bagaimana setiap kita memiliki 2 hal tersebut.

  1. Kesungguhan ( Jahadu)

a. Kesungguhan untuk merencanakan (Ijtihad)

Perencanaan merupakan suatu kesungguhan yang harus dimiliki setiap orang dan membangun kesadaran dalam masyarakat. Sebagai simulasi adalah dengan data-data kasar di atas. Kelas atas yang mencapai 20% dari penduduk dengan asumsi 260 juta adalah 52 juta yang selama ini sangat menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seandainya mereka sadar dan menyumbangkan 1 juta rupiah rata-rata per orang maka akan terkumpul 52 trilliun yang akan bisa digunakan untuk membantu karyawan untuk bisa tetap gajian setiap bulannya. Selain itu bisa membantu pengadaan Alat Pelindung Diri ( APD) para tim medis yang berjibaku di garda depan dalam wabah ini. Alih-alih mereka mencari keuntungan dengan melakukan PHK, ini salah satu yang dimaksud kesolehan sosial. Sehingga social distancing akan efektif bagi setiap orang. Karena dengan demikian mereka akan nyaman melakukan tindakan untuk tetap dirumah. Sehingga bencana ini akan cepat teratasi dan kita bisa kembali menikmati pertumbuhan ekonomi.

b. Kesugguhan untuk melakukan aksi ( Jihad )

Permasalahan terbesar dari kita ketika sudah melakukan perencanaan adalah lemah dalam melakukan aksi. Sehingga banyak ide dan gagasan berhenti sampai dengan tataran wacana saja. Padahal jihad yang paling besar bagi umat islam saat ini adalah jihad sosial yang akan membantu banyak orang. Hal ini juga akan menginspirasi agama lain untuk melakukan hal yang sama. Inilah yang dikatakan bahwa Islam ini adalah rahmatan lil alamin ( rahmat bagi seluruh alam). Kalau boleh meminjam istilah AA Gym 3 M, memulai dari yang kecil, memulai dari diri sendiri dan memulai dari sekarang. Dengan memulai menyumbang 1 juta per orang dan dilakukan secara massive maka kita bisa membantu efek secara ekonomi dari wabah ini.

c. Mengendalikan Gejolak Hati ( Mujahadah)

Tantangan berikutnya setelah perencanaan dan aksi adalah keraguan dan kekhawatiran yang menyelimuti setiap individu. Karena pengalaman buruk yang selalu menghantui diri kita membuat langkah kita untuk melakukan kebaikan dibayang-bayangi kekhawatiran. Contohnya adalah kekhawatiran akan penyalahgunaaan dan ketidakefektifan penyalurannya dan sebagainya. Mata kita tertutup oleh prasangka buruk dibandingkan Pertolongan Allah yang sangat dekat. Inilah mungkin makna dibalik kita tidak bisa sholat berjamaah di masjid karena Allah ingin memberitahukan bahwa kesolehan sosial sekarang lebih dibutuhkan dibandingkan bersembunyi di balik bilik-bilik masjid dan mengharap Allah merubah semuanya. Tindakan nyata kita sebagai muslim akan lebih mendekatkan kita pada Allah sebagai Penguasa Alam Semesta ini. Ketauhidan kita tidak selesai pada sujud kita namun aksi nyata merupakan langkah yang harus kita kedepankan saat ini.

 

  1.  Sabar

Surat Ali-Imran ayat 142 ini ditutup ayat dengan kata sabar, karena memang obat bagi setiap muslim untuk menangani masalah apapun adalah kesabaran.  Kesabaran untuk terus bertindak dan berkontribusi sampai pertolongan Allah datang dan membebaskan dari Virus yang sangat dahsyat penularannya ini.

 

Semoga Allah mempercepat pertolonganNya seiring dengan kesolehan sosial yang penyebarannya semakin cepat dan massive seperti apa yang dilakukan oleh makhluk Allah yang bernama Virus corona.

 

Widiantoro Baroto

CEO and Business Coach

Tinggalkan Komentar

Dapatkan Ebook Eksklusif

"CEO cukup bekerja 2 jam sebulan dengan menerapkan 5 tools ini" sekarang, GRATIS

we respect your privacy and take protecting it seriously