Perlukah PHK karyawan saat ini?

Membaca salah satu berita di koran online yang menyatakan bahwa diperkirakan 25 Juta orang akan di PHK terkait imbas dari wabah Covid 19 ini.  Kondisi tersebut membuat kita merasa miris. Sejalan ditengah upaya pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi di angka 7%, alih-alih Menteri keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi akan minus 0,4% bahkan beberapa ahli ekonomi menyatakan kemungkinan lebih buruk dari itu.

Pengusaha juga sedang mumutar otak mereka untuk bisa mempertahankan bisnis di era krisis yang belum tau sampai kapan akan berakhir. Upaya yang dilakukan pengusaha dikenal dengan BCP (Business Continuity Plan) atau melakukan strategi cepat untuk membuat perusahaan tetap bisa hidup walaupun tanpa ada penjualan sama sekali.

Perusahaan ketika dihantam krisis, maka langkah awal yang dilakukan adalah mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu untuk mengurangi beban cash flow. Langkah paling umum  yang dilakukan adalah mengurangi karyawan dan ini langkah yang paling mudah. Namun sebaliknya, ada pengusaha yang melakukan upaya untuk memanfaatkan asset yang ada untuk digunakan menjalankan bisnis lainnya di luar  bisnis inti mereka.

Sesuai judul tulisan ini, pertanyaannya adalah Mengapa kita harus memPHK karyawan? dan jawaban paling panyak yang muncul adalah

  1. Tidak memiliki penghasilan untuk menggaji karyawan
  2. Harus menyelamatkan cash flow perusahaan
  3. Mempertahankan perusahaan agar tetap ada
  4. Karyawan tidak akan produktif kerja di rumah
  5. Sulit mengontrol karyawan ketika kerja dirumah
  6. Pekerjaan ini tidak bisa di lakukan ketika ada dirumah
  7. Dan jawaban-jawaban lainnya

Simom Sinek dalam bukunya “ Start with Why” mengatakan bahwa untuk merubah perilaku maka dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

  1. Memanupulasi ( Manipulated )
  2. Mengispirasi ( Inspired )

Memanupulasi adalah tindakan seperti yang dilakukan sebagian orang di saat krisis yaitu mengurangi biaya agar profit tetap ada atau agar cash flow tetap cukup untuk biaya operasional. Sebagian besar pengusaha ketika krisis datang maka yang di munculkan dahulu adalah “ HOW” bagaimana agar kita bisa tetap bertahan ? dan “ WHAT” apa yang dilakukan untuk bisa tetap bertahan?

Maka tindakan yang muncul bersifat manupalatif yaitu mengurangi biaya, menahan investasi, yang  intinya adalah profit atau minimal tidak rugi. Segala perilaku yang muncul dari “ HOW” dan “WHAT” bersifat kasat mata yang bisa tampak secara langsung.

Coba sekarang rubah pertanyaan menjadi “WHY”, Mengapa karyawan harus tetap ada diperusahaan ? seorang pemilik perusahaan harus bisa menjawab dengan nilai atau bahasa perjuangan yang bisa membuat semua karyawan bisa terinspirasi. Dengan inspirasi maka mereka akan ikut membantu perusahaan keluar dari krisis yang sekarang sedang terjadi.

Ketika krisis terjadi maka pemilik atau pemimpin perusahaan harus mendatangi karyawan dan menanyakan “ WHY”, Mengapa kita harus tetap mempertahankan karyawan disaat kiris saat ini? Maka pertanyaan berikutnya “ HOW” bagaimana agar karyawan masih tetap bisa bertahan dan “ APA” langkah yang harus dilakukan agar karyawan tetap harus bekerja dan mendukung perusahaan.

Kita akan melihat bahwa pertanyaan “ WHY” ini akan mengispirasi karyawan untuk melakukan sesuatu bersama-sama dengan pemilik untuk menyelamatkan perusahaan. Pemilik juga bisa mangatakan bahwa perusahaan ini hadir untuk membantu banyak orang termasuk bagaimana perusahaan ini harus tetap hidup untuk bisa menghidupi keluarga dan anak-anak mereka.

Maka tindakan yang muncul juga akan terinspirasi dengan pertanyaan “WHY”. Inilah yang dikatakan Simon Sinek sebagai kesesuain antara jiwa yang ada dalam perusahaan dengan tindakan yang akan dilakukan. Setiap karyawan akan terinspirasi dan mau melakukan perjuangan untuk bisa sama-sama melakukan program penyelamatan.

Mungkin “HOW” yang akan muncul setiap karyawan akan rela tidak digaji full atau karyawan akan berusaha membantu pengusaha mencari penghasilan lain. Sedangkan “ APA” yang dilakukan tidak akan jauh dengan tema perjuangan yang dituangkan dari pertanyaaan “ WHY” tadi.

Kesimpulannya di saat krisis, maka ajak semua karyawan untuk berdiskusi. Sedangkan  seorang pemimpin harus menjelaskan “WHY” dan dapat memunculkan tema perjuangan atau nilai normatif. Sehingga  semua tindakan dilakukan dengan sukarela tanpa tekanan dan menghindari konflik antara karyawan den pemilik perusahaan. Tindakah yang timbul karena terinpirasi akan lebih langgeng dan tahan lama dibandingikan dengan cara manipulatif.

Selamat Mencoba

Widiantoro Baroto

CEO & Business Coach

Pertolongan Allah Itu Dekat (Pelajaran dibalik bencana Virus Covid 19)

Sejak merebaknya virus corona ( covid 19) ini, banyak dari kita merasa berat dalam menjalani kehidupan. Yang paling terasa dalam kehidupan kita adalah penghasilan yang semakin menurun. Sektor yang paling terpukul akibat Virus corona ini adalah sektor informal dan usaha mikro menengah.

Sektor informal yang dihuni oleh pekerja yang bekerja hari ini untuk makan hari ini sedangkan sektor usaha mikro menengah adalah para pelaku bisnis yang cash flow nya mungkin hanya bisa bertahan 1 ( satu) atau 2 (dua) bulan kedepan. Ketika bencana virus ini berlangsung sampai 3 bulan kedepan maka mereka tidak memiliki penghasilan dan tidak punya cukup modal untuk menopang bisnisnya.

Banyak dari mereka sudah melakukan PHK terhadap karyawan mereka. Berdasarkan data kementrian UMKM pada sektor informal dan sektor mikro menengah ini menyerap lebih dari 140 juta pekerja yang merupakan 54% dari populasi penduduk Indonesia. Sekarang betapa besar kontribusi mereka pada negara.

Inilah yang kita pahami mengapa berat bagi pemerintah sekarang untuk melakukan totally lock down yang akan banyak sekali memukul sektor ekonomi. Ditambah negara ini tidak memiliki sistem jaminan sosial yang baik, dimana apabila tidak bekerja, negara bisa memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat. Inilah mengapa kereta commuter line tetap penuh dan orang-orang masih berkeliaran di luar karena mereka harus makan hari ini. Sebagian mereka berpikir dirumah adalah masalah bagi mereka karena mereka harus menghidupi keluarganya.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak di sumbang oleh kelas menengah yang sekarang mendekati 50% dari total penduduk Indonesia dan angkanya terus meningkat. Kalau dengan asumsi penduduk Indonesia sekarang 260 juta, maka kelas menengah ini hampir 130 juta penduduk. Mengapa kelas menengah ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi? Hal ini karena mereka melakukan belanja atau konsumi rata-rata antara 2 juta sampi 3 juta per bulan. Budaya konsumtif masyarakat inilah yang menyelamatkan beberapa krisis yang di alami Indonesia seperti tahun 2008 dan 2013.  Bahkan pemerintah menerapkan keep buying strategy yang sebagian besar karena perilaku kelas menengah ini.

Namun dalam bencana corona ini, maka ruang gerak manusia dibatasi sehingga membuat semua sektor harus menahan diri. Hal ini tidak memungkinkan kelas menengah untuk tetap perilaku konsumtif, hal tersebut dikarenakan sektor produksi juga dipaksa berhenti karena wabah ini. Sebagian besar kelas menengah sekarang berusaha menabung dan menyediakan cadangan dana untuk persiapan seandainya wabah ini cukup lama bertahan di Indonesia.

Mekanisme pasar akan berlangsung dimana demand akan berkurang dan supply juga berkurang sehingga inflasi akan terjadi. Kita sudah mulai merasakan gula yang langka dan beberapa kebutuhan pokok meningkat.

Parahnya lagi sektor manufaktur di Indonesia juga belum begitu kuat dimana sebagian bahan pokok bahkan masih import dari luar negeri. Ketika masker, alat pelindung diri dan alat test covid 19 kita harus juga import dari cina untuk memerangi wabah ini, maka  makin menambah deretan import yang harus dilakukan Indonesia. Wajarlah sekarang nilai tukar kita semakin melemah terhadap USD ( 17.000 per USD) karena ini merupakan salah satu pengaruh dari nilai import kita yang masih tinggi.

Indikator krisis ekonomi menurut para ahli ekonomi adalah ketika inflasi sudah mulai terjadi dan nilai tukar rupiah sudah mulai melemah. Karena inflasi maka cadangan uang atau tabungan masyarakat akan terkuras karena harus membeli harga lebih mahal. Sedangkan para pelaku usaha tidak memiliki pemasukan dan kehabisan modal untuk menjalankan usahanya. Oleh karena itu, pemerintah sekarang banyak melakukan intervensi berupa tunjangan bagi yang PHK 1 juta per bulan dan beberapa insentif lainnya seperti penundaan pembayaran hutang bagi sektor mikro dan menengah. Bahkan kementrian tenaga kerja sudah mengeluarkan peraturan Menteri yang memberikan peluang bagi pengusaha untuk bernegosiasi dengan karyawan terkait dengan waktu jam kerja dan penurunan gaji sebagai imbas dari bencana virus corona ini.

Jadi sebenarnya yang ditakuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah kematian akibat terifeksi virus corona namun sebagian besar masyarakat lebih takut dengan tekanan ekonomi yang akan terjadi. Apabila kelas menengah 50% dari total penduduk dan kelas bawah 30% dari total penduduk maka hampir 80% total penduduk Indonesia akan sangat jatuh level ekonominya. Hal ini menimbulkan bencana ekonomi selain bencana Virus corona itu sendiri. Mungkin bencana ini juga akan mengarah pada bencana politik yang sangat di takutkan oleh para petinggi negara ini.

Bagaimana sikap kita sekarang menyikapi semua bencana covid 19 dan bencana-bencana turunan yang akan terjadi? Apakah benar dengan sikap tawakal atau berserah diri saja ? Apakah kita harus mencari kambing hitam dan menyalahkan banyak orang termasuk pemerintah? Ataukan kita kembali melihat diri kita masing-masing apa yang bisa kita lakukan sebagai pribadi ?

Pendekatan Teologi :

Solusi Al-quran atas bencana ini :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Arti: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali -Imran Ayat 142)

Perlu kita sadari bahwa apapun bencana yang terjadi adalah ujian bagi umat manusia (Surat Al-Mulk ayat 2). Dari ujian yang kecil, menengah sampai dengan besar merupakan seleksi siapa saja yang lebih baik amalnya. Sehingga bencana ini sebenarnya ajang bagi setiap individu untuk meningkatkan amal baik yang sifatnya ruhiah maupun sosial. Untuk kesolehan pribadi mungkin sudah banyak yang tau apa yang harus dilakukan dengan amalan-amalan memperbanyak sholat sunah, tahajud, sholat 5 waktu, istighfar dan amalan lainnya.

Hal yang paling penting dibutuhkan  dalam kondisi saat ini adalah kesolehan sosial kita dalam masyarakat. Data statistik sekarang masih menunjukan bahwa ekonomi Indonesia saat ini masih didominasi oleh kelas atas yang mencapai 20% dari total populasi penduduk Indonesia. Mereka yang selama ini paling menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mereka memiliki faktor produksi terutama modal dan akses sumber daya alam. Sehingga ketika terjadi krisis ekonomi mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan dari perilaku konsumtif kelas menengah Indonesia yang mencapai 50% total penduduk tersebut. Inilah yang dikatakan yang kaya semakin kaya karena imbas dari perilaku konsumtif masyarakat Indonesia. Sehingga krisis ekonomi pada umumnya akan tidak terpengaruh.

Ujian virus corona ini tidak mempertimbangkan ras, suku dan agama bahkan status sosial tertentu. Semua orang memiliki potensi tertular dan memiliki tingkat penularan yang massive dan cepat. Karena para kelas menengah yang sebagian besar berprofesi sebagai pegawai mereka sangat faham atas bahaya dari covid 19 ini dan mereka dengan sadar melakukan social distancing. Sedangkan kelas atas yang sebagian besar adalah pemberi kerja juga tidak mau kehilangan kekayaannya sehingga melakukan banyak pemutusan hubungan kerja. Disinilah yang terjadi ketika kesolehan sosial harus lebih dikedepankan dibandingkan kesolehan pribadi. Bahkan untuk menanggulangi wabah ini kita harus punya kesungguhan yang tinggi untuk berkontribusi.

Dalam  surat Ali-Imran ayat 142 minimal ada 2 (dua) hal yang harus dilakukan apabila kita ingin merengkuh kebahagiaan kita di masa yang akan datang dan keluar dari wabah ini dengan cepat. Social distancing, budaya rajin mencuci tangan dan tindakan-tindakan yang lainnya sudah menjadi cara umum untuk mengurangi penularan virus ini. Namun yang lebih penting bagaimana setiap kita memiliki 2 hal tersebut.

  1. Kesungguhan ( Jahadu)

a. Kesungguhan untuk merencanakan (Ijtihad)

Perencanaan merupakan suatu kesungguhan yang harus dimiliki setiap orang dan membangun kesadaran dalam masyarakat. Sebagai simulasi adalah dengan data-data kasar di atas. Kelas atas yang mencapai 20% dari penduduk dengan asumsi 260 juta adalah 52 juta yang selama ini sangat menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seandainya mereka sadar dan menyumbangkan 1 juta rupiah rata-rata per orang maka akan terkumpul 52 trilliun yang akan bisa digunakan untuk membantu karyawan untuk bisa tetap gajian setiap bulannya. Selain itu bisa membantu pengadaan Alat Pelindung Diri ( APD) para tim medis yang berjibaku di garda depan dalam wabah ini. Alih-alih mereka mencari keuntungan dengan melakukan PHK, ini salah satu yang dimaksud kesolehan sosial. Sehingga social distancing akan efektif bagi setiap orang. Karena dengan demikian mereka akan nyaman melakukan tindakan untuk tetap dirumah. Sehingga bencana ini akan cepat teratasi dan kita bisa kembali menikmati pertumbuhan ekonomi.

b. Kesugguhan untuk melakukan aksi ( Jihad )

Permasalahan terbesar dari kita ketika sudah melakukan perencanaan adalah lemah dalam melakukan aksi. Sehingga banyak ide dan gagasan berhenti sampai dengan tataran wacana saja. Padahal jihad yang paling besar bagi umat islam saat ini adalah jihad sosial yang akan membantu banyak orang. Hal ini juga akan menginspirasi agama lain untuk melakukan hal yang sama. Inilah yang dikatakan bahwa Islam ini adalah rahmatan lil alamin ( rahmat bagi seluruh alam). Kalau boleh meminjam istilah AA Gym 3 M, memulai dari yang kecil, memulai dari diri sendiri dan memulai dari sekarang. Dengan memulai menyumbang 1 juta per orang dan dilakukan secara massive maka kita bisa membantu efek secara ekonomi dari wabah ini.

c. Mengendalikan Gejolak Hati ( Mujahadah)

Tantangan berikutnya setelah perencanaan dan aksi adalah keraguan dan kekhawatiran yang menyelimuti setiap individu. Karena pengalaman buruk yang selalu menghantui diri kita membuat langkah kita untuk melakukan kebaikan dibayang-bayangi kekhawatiran. Contohnya adalah kekhawatiran akan penyalahgunaaan dan ketidakefektifan penyalurannya dan sebagainya. Mata kita tertutup oleh prasangka buruk dibandingkan Pertolongan Allah yang sangat dekat. Inilah mungkin makna dibalik kita tidak bisa sholat berjamaah di masjid karena Allah ingin memberitahukan bahwa kesolehan sosial sekarang lebih dibutuhkan dibandingkan bersembunyi di balik bilik-bilik masjid dan mengharap Allah merubah semuanya. Tindakan nyata kita sebagai muslim akan lebih mendekatkan kita pada Allah sebagai Penguasa Alam Semesta ini. Ketauhidan kita tidak selesai pada sujud kita namun aksi nyata merupakan langkah yang harus kita kedepankan saat ini.

 

  1.  Sabar

Surat Ali-Imran ayat 142 ini ditutup ayat dengan kata sabar, karena memang obat bagi setiap muslim untuk menangani masalah apapun adalah kesabaran.  Kesabaran untuk terus bertindak dan berkontribusi sampai pertolongan Allah datang dan membebaskan dari Virus yang sangat dahsyat penularannya ini.

 

Semoga Allah mempercepat pertolonganNya seiring dengan kesolehan sosial yang penyebarannya semakin cepat dan massive seperti apa yang dilakukan oleh makhluk Allah yang bernama Virus corona.

 

Widiantoro Baroto

CEO and Business Coach

Leading Transformation

Saya sekarang berada di Hotel Salak Bogor, setelah kemarin menghadiri dan memimpin rapat pemilihan ketua umum Asosisasi Bisnis Alhidayah Indonesia. Ada satu hal yang ingin saya bagikan untuk sahabat semua. Yang mana masih banyak orang yang berpikir untuk berbisnis hanya menjual barang atau jasa. Faktanya barang atau jasa aja tidak cukup untuk menarik konsumen atau pelanggan. Maka pada saat ini, ada sebuah trend yang disebut dengan “Experience” atau pengalaman. Jadi, berbisnis yang tidak hanya menjual barang atau jasa, tetapi juga menjual sebuah experience atau pengalaman.

Ketika kita minum kopi di Starbuck, maka kita tidak hanya minum kopi tetapi juga kita membeli pengalaman. Pengalaman untuk bersosialisasi, pengalaman untuk memberikan tempat pada diri kita supaya bisa memahami bahwa kita sedang diberi pengalaman baru yaitu minum kopi sambil duduk di tempat yang nyaman.

Ketika kita tinggal disebuah hotel, maka kita tidak hanya tidur didalam kamar. Karena tidak ada bedanya hotel dengan rumah. Namun di hotel kita mengalami sebuah pengalaman dimana pengalaman itu memberikan kesan. Maka, pengalaman itulah yang sebenarnya kita beli.

Setiap orang merasakan bahwa pada saat ini, barang dan jasa yang kita beli, semua menawarkan pengalaman, bahkan pengalaman-pengalaman baru yang mungkin tidak pernah kita alami sebelumnya. Namun ada satu hal yang lebih penting dari sebuah pengalaman ketika kita menjual barang atau jasa, yaitu kita menawarkan sebuah transformasi.

Transformasi merupakan sesuatu yang lebih dashyat menurut saya. Karena transformasi dapat merubah segalanya. Dari sesuatu yang dulu biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang luar biasa. Yang dulu merubah suatu karakter yang mungkin tidak terlalu baik, menjadi sebuah karakter yg lebih baik. Transformasi dapat menciptakan suatu lingkungan yang mungkin tidak terlalu baik menjadi lebih baik bahkan sangat baik sekali. Itulah yg disebut dengan transformasi. Di era kedepan, produk barang atau jasa yang dibundling dengan experience tidak cukup, pemilik barang atau jasa harus menawarkan sebuah transformasi. Transformasi dalam kehidupan dan keberadaan kita sebagai manusia di dunia ini

Sekian

Widiantoro Baroto

Menyambut Tahun Baru 2020

Setiap akhir tahun kita selalu mencoba untuk membangun resolusi untuk tahun berikutnya. Kini kita sudah berada dipenghujung tahun 2019 dan saat ini setiap kita, baik sebagai karyawan, Self employee dan Pebisnis mulai berfikir tentang target yang akan di canangkan untuk tahun 2020.

Untuk bisa mencapai target yang diinginkan, maka kita perlu melakukan evaluasi terhadap 4 hal dalam pekerjaan dan kehidupan yang sedang kita jalani. 4 hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Minat dan Kertarikan
Kita mulai menanyakan lagi apa Minat dan Ketertarikan kita dalam pekerjaan dan kehidupan ini. Karena minat dan ketertarikan kita akan menumbuhkan motivasi untuk berjuang dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk bertumbuh.

2. Latihan yang terencana
Setelah minat dan ketertarikan diketahui, maka kita harus melakukan pekerjaan sesuai yang telah digariskan dan direncanakan. Pekerjaan ini akan menjadi ritual sehari-hari dalam kehidupan kita. Dalam latihan ini setiap orang akan melakukannya secara sukarela dan menyenangkan. Tanda bahwa kita sudah menikmati latihan ini adalah bahwa semuanya mengalir dengan baik tanpa ada perasaan lelah dalam diri kita. Latihan ini akan memiliki hasil yang maksimal apabila berjalan sesuai dengan rencana yang sudah dibuatkan.

3. Tujuan yang Jelas
Dalam melakukan pekerjaan, setidaknya kita memiliki minimal 3 tujuan, yaitu :
a) Sebagai profesi
Dimana pekerjaan kita hanya untuk mempertahankan hidup saja seperti kita bernafas dan makan.

b) Sebagai Karier
Dimana pekerjaan ini hanya sebagai batu loncatan ke jenjang karier berikutnya

c) Sebagai Panggilan
Dimana pekerjaan ini merupakan bagian dari amal soleh dan tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada orang lain. Selain itu, tujuan terbesarnya adalah sebagai penghambaan kepada sang Maha Pencipta.

Tujuan dalam pekerjaan hampir sebagian besar adalah terbatas sebagai profesi dan karier saja. Masih sangat sedikit pekerjaan ini bertujuan sebagai panggilan.

Jika dalam pekerjaan ini bertujuan hanya sebagai profesi dan karier saja, maka tingkat produktivitasnya belum maksimal. Produktivitas mudah turun ketika gaji tidak lagi sesuai harapan ataupun ketika karier mandek tidak ada kenaikan jabatan.

Setiap waktu kita terbentur oleh tingkat turn over karyawan yang besar. Kalau demikian sebenarnya mereka belum memiliki minat dan ketertarikan yang tepat.

Bagaimana kedepan bisnis harus menciptakan manusia-manusia yang terpanggil untuk melayani dengan kualitas yang terbaik untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia.

4. Harapan
Setelah kita mengetahui minat dan ketertarikan kita, lalu menjalankan latihan yang terencana dan terus menerus untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka langkah selanjutnya adalah kita harus selalu punya harapan. Kita yakin bahwa harapan itu selalu ada dalam setiap langkah kehidupan ini. Kita tidak boleh sedikit pun melepaskan harapan yang menyebabkan kita terjerumus dalam keputusasaaan.

Dengan mengevaluasi Minat dan Ketertarikan, Latihan yang terencana, Tujuan yang jelas, dan Harapan yang selalu terbuka, maka mudah-mudahan resolusi kita tahun 2020 ini akan dapat terwujud.

Semoga Bermanfaat

Widiantoro Baroto
CEO and Business Coach

Talenta, Bakat, dan Potensi anda yang bisa menggemparkan banyak orang !!!

Dari beberapa kegiatan coaching bisnis yang saya lakukan, banyak dari para peserta coaching menyatakan bahwa seorang pelatih bisnis atau business coach yang diharapkan adalah sosok pebisnis yang sukses. Seorang pelatih bisnis diharapkan juga memiliki banyak aset dari hasil bisnisnya. Saya sering berpikir bahwa apakah sebagai seorang pelatih bisnis, kita harus memiliki kondisi ideal yang semacam itu. Padahal pada dasarnya, setiap keberhasilan bisnis itu tidak menjamin bahwa seseorang itu memiliki satu potensi keberhasilan atau mereka sudah memiliki bakat keberhasilan.

Dalam kenyataannya, seorang yang meniti sebuah jalan, mereka akan sesuai dengan selera, talenta, serta potensi kejiwaan dan akal yang dimilikinya. Seorang motivator terkenal yang bukunya sangat kita kagumi yaitu stephen covey “The 7 Habbit of highly effective people”.Dia menyatakan bahwa keberhasilan itu bisa dicapai dengan 7 kebiasaan yang efektif. Namun stephen covey sendiri ketika membuat sebuah bisnis, dia pun tidak berhasil. Apakah kemudian kita bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakannya tidak benar? Walaupun sebagian besar dari orang-orang yang membaca buku itu dan menerapkannya, dia juga berhasil. Apakah kemudian stephen covey harus memiliki aset yang banyak dan memiliki bisnis yang besar ketika dia harus menulis sebuah buku. Inilah kesalahan-kesalahan yang mungkin banyak kita temui ketika menghadapi beberapa peserta pelatihan bisnis yang menuntut seorang pelatih bisnis harus sukses terlebih dahulu.

Kemajuan dan kesuksesan seseorang akan terhambat bila dia lalai mengukur potensinya tanpa perhitungan yang matang. Menggeluti sebuah bidang yang bukan menjadi kawasan potensinya merupakan bunuh diri bagi mereka. Jadi apa peran pelatih bisnis atau bisnis coach? Pada dasarnya, business coach adalah dia yang mencoba untuk mencari dan membantu seorang coachee atau peserta pelatihan bisnis untuk menemukan potensi terbesarnya. karena dasarnya, seseorang itu tidak harus menjadi follower atau pengikut untuk menjadi sukses, tetapi dia harus otentik atau original terhadap ide-ide yang dia miliki. Potensi, kemampuan, dan bakat kadang tidak kita sadari, kecuali dengan bantuan orang lain.

Disitulah pentingnya pelatih dan coach dalam kehidupan berbisnis. Bukan lagi coach atau pelatih bisnis, dibebani target-target yang bagaimana dia harus sukses dulu kemudian dia harus berbagi untuk membantu orang lain untuk sukses. Seorang albert einsten seorang ahli fisika dan matematika, memiliki masa lalu yang dikenal dengan seorang yang lemah, penakut, dan tidak menonjol. Namun pada suatu masa dia memiliki kegemilangan yang mencengangkan dari dalam dirinya. Kita harus menemukan potensi dan talenta yang ada pada diri kita, yang setiap apa yang kita lakukan, kita menikmatinya. Dan kita selalu mengikuti dan menikmati proses yang kita miliki.

Inilah hal yang harus selalu ada pada diri anda

Dalam kenyataan hidup kita saat ini, kadang dihadapkan pada situasi dimana segala sesuatunya sudah kita lakukan. Segala sesuatunya sudah kita upayakan. Tapi apa yang kita harapkan, apa yang kita targetkan belum juga sesuai harapan. Kadang kita berusaha untuk mencapai segala sesuatu yg kita inginkan dengan segala cara yang kita rencanakan. Tapi hasil yang dicapai masih jauh dari apa yang kita ingin capai. Apa yang biasanya muncul dalam diri kita adalah bahwa kita mulai kehilangan motivasi. Kita mulai kehilangan semangat. Kita mulai kehilangan kemampuan kita untuk terus menjalankan dan bekerja sesuai dengan apa yang kita canangkan sebelumnya. Lalu dengan kondisi seperti itu, kita seperti kehilangan apapun, kehilangan inovasi, kehilangan semangat, kehilangan apapun yang kita rasakan. Serasa apa yang kita lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Dalam kondisi semacam itu, kita mungkin seperti kondisi yang tidak bisa diubah lagi. Kita seperti sudah ditengah-tengah persimpangan jalan yang rumit dan tidak tau lagi apa yang harus kita dilakukan. Dengan kondisi semacam itu, apa yang tidak boleh hilang dalam diri kita?

Kita boleh kehilangan uang, harta, modal, kita boleh rugi, kita boleh apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Tapi satu hal yang tidak boleh hilang dalam hidup kita adalah harapan. Karena harapan adalah sesuatu yang harus kita pertahankan. Karena harapan adalah sesuatu yang harus kita yakini. Karena Harapan adalah sesuatu yang harus kita pegang teguh dalam hidup kita dan kedepan selalu ada harapan dalam hidup kita. Ketika harapan itu kita pegang dan tidak hilang dalam hidup kita, maka semangat, inovasi, motivasi, perjuangan, dan segala sesuatu yang akan kita lakukan, yang kita capai, yang kita inginkan, yang kita targetkan, akan terus berjalan, bergerak, dan terus mencari celah-celah dimana dia akan bisa memberikan pencapaian dan target yang kita inginkan. So, jangan pernah kehilangan harapan dalam hidup kita.

3 Alasan yang membuat Anda harus tumbuh dan berkembang setiap waktunya

Setiap orang selalu berpikir mengapa kita harus berkembang sebagai individu? Mengapa kita harus meningkatkan performa kita setiap waktu? Mengapa kita harus selalu meningkatkan kemampuan kita setiap waktu? Minimal ada 3 hal yang menuntut kita secara pribadi untuk selalu bertumbuh dari waktu ke waktu. Alasan pertama adalah tuntunan agama. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW, mengatakan bahwa “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka celakalah dia. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin , maka merugilah dia. Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka beruntunglah dia”. Artinya jika tidak ingin masuk dalam kategori rugi dalam kehidupan kita, maka kita harus terus berubah dan berkembang. Inilah salah satu alasan mengapa kita harus selalu berkembang.

Dalam perspektif saya, minimal dalam setiap hari kita harus tumbuh 1%. Jika kita hari ini menghasilkan 1000, maka esok kita harus bertumbuh 1%, esoknya lagi bertumbuh 1% dan seterusnya. Kalo setiap hari kita bertumbuh satu persen, maka setahun minimal kita bisa bertumbuh 365%. Kalo kita berjualan 100 produk hari ini, maka bayangkan dalam satu tahun kita bertumbuh 365% dari 100. Seperti itulah yang dikatakan mengapa kita harus bertumbuh. Tuntunan agama terutama islam bahwa setiap orang harus lebih baik dari hari kemarin.  Alasan kedua mengapa harus bertumbuh secara pribadi adalah karena hanya orang-orang yang kita anggap gila apabila mereka ingin mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara yang sama. Artinya apabila kita ingin mencapai sesuatu yang berbeda, maka kita harus melakukan dengan cara-cara yang berbeda. Apabila hasilnya sama, maka tidak berarti kita melakukan cara yang sama dan kita harus mencari sesuatu yang baru. Menciptakan hal-hal yang baru. Memiliki inisiatif, inovasi dan kreativitas sehingga kita juga mendapatkan hasil yang berbeda.

Alasan ketiga mengapa manusia harus bertumbuh adalah jika kita terus bergerak dan terus berubah, maka kita akan selalu hidup. Karena ketika orang tidak lagi bergerak dan berubah, ketika orang tidak lagi berkembang dan bertumbuh, maka dia tidak lebih dari seorang zombie yang pada kelihatannya hidup tapi sebenernya mati. Terus bergerak dan membuat satu tujuan adalah alasan mengapa kita harus selalu bertumbuh. Ketika membuat satu tujuan atau membuat target dalam hidup kita, maka kita akan terus bergerak dan bertumbuh. Apabila kita sebagai manusia tidak memiliki target dan perencanaan dalam hidup, maka kita hanya akan berada pada bagian dari perencanaan orang lain.

Mungkin inilah yang membuat do’a kita tidak mudah terkabul

Kenapa do’a-do’a kita tidak mudah untuk dikabulkan? Terkait dengan hal tersebut, sudah banyak kajian para ulama tentang mengapa do’a-do’a kita tidak mudah untuk dikabulkan. Dalam sebuah buku yang dikarang oleh dr. Murfi yang berjudul “the power of subconscious mind”, sangat inspiratif. Di bab awal-awal buku ini, dr. murfi mengatakan bahwa kenapa do’a-do’a itu tidak segera terwujud menjadi sebuah realita, ada 2 menurutnya. Yang pertama adalah bahwa do’a  itu tidak mudah dikabulkan karena kita tidak merasa yakin kalo do’a itu akan dikabulkan. Kadang kita masih merasa ragu apakah itu mungkin bisa terwujud. Satu yang disampaikan buku ini adalah  apapun yang kita inginkan ataupun mimpi kita, walaupun sulit tapi dalam do’a-do’a kita harus yakin bahwa itu akan terwujud. Sehingga yang terjadi adalah, kita hanya berdo’a tapi kita tidak bisa merasakan  atau menjadikan do’a itu seperti sebuah mimpi yang jadi nyata. Hal kedua yang membuat do’a tidak mudah terkabul adalah ketika kita tidak menghadirkan kenyataan dalam pikiran bawah sadar kita. Bahwa mimpi atau do’a-do’a yang kita panjatkan itu akan menjadi sebuah realitas. Akan menjadi sesuatu yang mungkin akan terwujud dan itu akan terjadi di suatu saat nanti.

Ketika kita sudah meyakini do’a kita dan kita menghadirkan realitas apa yang kita inginkan dalam pikiran bawah sadar kita, maka itu akan mempermudah langkah-langkah kita dalam melakukan kegiatan atau usaha untuk mencapai mimpi dan keinginan kita tersebut. Ada pula hal lain yang tidak terkait dalam buku ini adalah bahwa kita harus memiliki strategi berdo’a.

Strategi berdo’a itu bergantung pada 3 hal, yaitu waktu, tempat dan orang. Waktu adalah dimana kita mengetahui dalam islam, waktu mustajab untuk berdo’a seperti saat shalat shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir, ketika waktu diantara adzan dan iqomah, ketika kita berdo’a disaat 10 malam terakhir bulan ramadhan, dan lain-lain. Selain waktu-waktu mustajab untuk berdo’a, kita juga harus mengetahui tempat-tempat yang mustajab yang bisa kita kumandangkan do’a-do’a kita. Kalau kita memiliki rezeki lebih, kita bisa pergi ke tanah suci, baik mekkah maupun madinah, dimana ada tempat-tempat mustajab untuk berdo’a. Tidak hanya waktu dan tempat, kita juga harus pertimbangkan orang untuk dimintakan do’a.

Salah satu orang yang saya rasakan bahwa do’a itu selain kita panjatkan oleh diri kita sendiri, kita bisa meminta orang lain untuk mendo’akan kita. Ini yang dinamakan dalam islam yaitu Tawasul dengan meminta tolong orang lain untuk mendo’akan kita dengan apa yang kita inginkan. Salah satu yang pernah saya lakukan adalah ketika saya ingin berhaji. Sejak tahun 2015 saya berdo’a untuk bisa berhaji pada tahun 2015. Namun ternyata saya belum mendapatkan kesempatan pada tahun itu. Tahun 2016 saya pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh. Dan pada saat itulah saya berdo’a agar Allah mewujudkan mimpi saya berhaji pada tahun itu. Namun pada tahun 2016 saya masih belum diberi kesempatan untuk itu. Pada tahun 2017, saya berpikir untuk minta dido’akan oleh orang lain untuk keinginan saya menunaikan ibadah haji. Maka saya meminta Ibu saya untuk mendo’akannya dan saya membiayai Ibu dan bapak saya pergi ke tanah suci untuk Ibadah Umroh. Saya menyelipkan satu kertas yang isinya adalah memohon bantuannya untuk mendo’akan saya agar bisa melaksanakan ibadah haji pada tahun itu. Tahun 2017 saya tunggu dan saya belum mendapatkan kesempatan untuk ibadah haji tahun itu. Maka saya tetap meyakini dan menghadirkan dalam pikiran saya dan khayalan saya bahwa saya akan berangkat ke tanah suci untuk ibadah haji. Alhamdulillah pada tahun 2018 saya dimampukan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah haji tanpa menunggu antrian kuota. Demikianlah salah satu contoh bahwa apapun yang kita inginkan, akan menjadi kenyataan, tanpa perlu tahu kapan keinginan itu akan terjadi. Yang penting harus kita yakini dalam alam bawah sadar kita dan terus berdo’a dengan waktu, tempat, dan orang yang bisa kita minta bantuannya untuk mendo’akan kita.

Ternyata, ini dampak dari sikap sok tau terhadap diri kita !

Saya ingin berbagi tentang bagaimana membuang rasa sok tau kita. Rasa sok tau adalah sesuatu yang biasa kita hadapi dan biasa kita lakukan terhadap orang lain. Ketika ada orang yang ingin memberitahu sesuatu, tiba-tiba kita memotongnya seolah-olah kita sudah tau dan akhirnya keliru. Sikap ini bukan monopoli anak muda tapi juga sering menghinggapi orang dewasa baik dia pintar ataupun bodoh, baik dia rajin ataupun pintar. Sikap sok tau ini banyak dimiliki oleh banyak orang, tidak peduli latar belakangnya. Sikap sok tau ini bisa menjadi perangkat yang sangat mematikan.

Orang yang sok tau akan lebih banyak berbicara daripada mendengarkan. Kuncinya adalah ternyata menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah. Butuh kebijaksanaan sikap yang luar biasa yang mampu menyingkirkan ego dasar kita. Sifat ego mendasar manusia yang selalu ingin didengarkan dan diperhatikan yang menjadi penyebab seseorang itu kadang menjadi sok tau. Dia lupa bahwa ego ingin selalu didengar itu harus diimbangi oleh orang lain yang mau mendengarkannya. Dengan kita menghilangkan rasa sok tau kita, saya berani menjamin bahwa anda akan menjadi orang yang lebih bijaksana, menjadi yang lebih banyak mendengarkan, dan otomatis akan membuat otak anda lebih banyak terisi .

Intinya adalah kosongkan otak anda ketika anda berhadapan dengan orang lain maka anda akan mendapatkan banyal hal yang baru dari kehidupan anda. Anda akan selalu kembali mengosongkan otak tersebut dan menyisihkan sikap sok tau dan terus menjadi pendengar yang baik. Ingat, selain memiliki dampak positif terhadap langkah langkah kedepan anda. Jadi pendengar yang baik juga memiliki efek samping yang dahsyat dan anda akan lebih disukai oleh orang di sekeliling anda.

Ketahuilah mental pemenang yang harus anda dimiliki

Saat ini kita banyak melihat fenomena di negara kita pasca pemilihan presiden dimana masing-masing kita merasa bahwa pemimpin yang kita pilih adalah pemimpin yang memenangkan pertarungan dalam pilpres ini. Ada sesuatu yang perlu kita ketahui, seperti apakah mental orang yang berpikir  dan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemenang? Hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemenang adalah berani mengakui kesalahan. Setiap melakukan sesuatu lalu ternyata salah, kita dengan jantan mengakui kesalahan itu. Kita tidak pernah mencari kambing hitam. Bagi kita, kesalahan-kesalahan tidak bisa ditebus dengan alasan apapun. Justru dari kesalahan tersebut, kita bisa belajar banyak untuk mencoba lagi dan memperbaiki kesalahan tersebut. Lawan daripada sifat menerima kesalahan adalah sifat membantah yaitu selalu menolak disalahkan dengan seribu satu alasan dan biasanya mencari kambing hitam.

Hal kedua yang harus dimiliki seorang pemenang adalah bertanggung jawab. Memang sangat tipis perbedaan antara berani mengakui kesalahan dan berani menanggung resiko atau tanggung jawab. Resiko itu sesungguhnya adalah kesalahan. Akan tetapi tidak semua kesalahan adalah resiko. Jadi calon pemenang, harus berani menanggung semua resiko terhadap apa yang dibuatnya. Bila mental pertama sudah dimiliki yaitu dengan mengakui kesalahan, maka lebih mudah untuk membuat perilaku kita lebih bertanggung jawab.

Hal ketiga yang harus dimiliki oleh seorang pemenang adalah bisa dipercaya atau akuntabel. Segala perbuatan bisa dibuktikan kebenarannya. Dia berjalan diatas rel sesuai aturan. Sesuai dengan janjinya. Sesuai dengan perkataannya. Dia tidak pernah bohong dan tidak pernah mencurigai orang lain. Semuanya bisa dipertanggung jawabkan. Tiga mental ini saling terkait dan saling mempengaruhi. Satu saja tidak dimiliki, maka orang itu tidak memiliki mental pemenang. Dari 3 hal mental seorang pemenang, kita bisa menyatakan bahwa seseorang yang melakukan apapun tentang kecurangan, segala apapun yang dilakukan dengan kebohongan, walaupun dia mendapatkan kemenangan itu, pada dasarnya dia sedang menggali kekalahannya. Dia sedang menggali kehancurannya. Maka bagi kita yang mengetahui mental pemenang adalah kita harus mengakui kesalahan, bertanggung jawab dan dapat dipercaya