Inilah cara kerja kaum sukses dalam beraktivitas sehari-hari

Saya ingin bercerita tentang bagaimana kaum sukses itu melakukan kegiatannya sehari-hari. Para kaum sukses, mereka tidak pernah lelah mencapai titik tertinggi mereka. Mereka selalu berpikir bahwa itu adalah sebuah titik awal. Kaum sukses memiliki penggerak yang setiap waktu mendorong mereka untuk bergerak maju. Mereka tidak memiliki gigi netral ataupun mundur. Kaum sukses selalu mencari target berikutnya dan memiliki suatu tujuan atau urusan yang mereka harus kejar. Antusiasme kaum sukses tidaklah mengada-ngada. Antusiasme itu datang dari dalam diri mereka sendiri. Kaum sukses berkembang saat menghadapi tantangan dan mereka akan melihat semua yang ada di depan seperti sebuah peluang. Peluang-peluang tersebut mereka jadikan upaya untuk mengalahkan diri mereka sendiri.

Cepat atau lambat, persiapkan diri anda menuju revolusi industri 5.0

Sore menjelang maghrib, saya duduk sambil minum teh hangat. Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi kepada teman-teman semuanya. Kali ini saya ingin bercerita tentang hal penting dalam kehidupan kita seagai individu atau pebisnis. Kadang kita melihat banyak orang yang terlihat bekerja begitu keras. Pergi sangat pagi dan pulang sangat larut. Namun apa yang dihasilkan tidak lebih dari sekedar apa yang dia ingin lakukan. Sama sekali tidak menghasilkan capaian yang luar biasa menurut pandangan saya. Tetapi ada beberapa yang terlihat santai, dia berangkat siang bahkan sore sudah pulang untuk bercengkraman dengan keluarganya, namun apa yang dihasilkannya sangat luar biasa. Mungkin lebih besar dan dahsyat dari orang yang bekerja begitu keras dari pagi sebelum subuh ia berangkat sampai larut malam ia pulang. Apa sebetulnya yang terjadi kepada dua tipe manusia semacam ini?

Kadang setiap manusia itu memiliki cara dan metode yang berbeda untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Kadang kita berasumsi bahwa dengan jumlah jam kerja yang begitu besar, maka pencapaian akan menjadi besar. Dan dengan jumlah jam kerja yng semakin kecil, maka pencapaian akan semakin kecil. Asumsi semacam itu kadang salah dan tidak beralasan. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki cara masing-masing dalam mencapai targetnya. Saat kita sebagai seorang pebisnis, maka kita tidak harus terjebak dalam kuantitas apa yang dikerjakan tetapi kualitas dan pencapaian lebih penting dibandingkan dari pada prosesnya.

Dalam beberapa hal saya melihat efektivitas waktu, pekerjaan, dan kemampuan membaca keadaan adalah suatu hal yang lebih penting dibandingkan hanya membuang-buang waktu dan berperilaku seperti orang yang sibuk . Kadang kesibukan tidak menunjukkan apapun. Tapi orang yang terlihat santai memiliki produktivitas yang tinggi. Kedepan manusia tidak lagi dihitung dari berapa jam mereka bekerja tetapi berapa banyak yang mereka hasilkan. Dengan begitu orang akan fokus pada produktivitas, bukan pada berapa jam yang dia gunakan untuk bekerja. Di era revolusi industri 4.0 ini dan revolusi industri yang berikutnya diperkirakan dikatakan sebagai revolusi industri 5.0. Era revolusi Industri 5.0 ini adalah era dimana setiap orang akan bekerja sebagai self employee. Mereka tidak terbatas lagi oleh ruang dan waktu. Orang tersebut berorientasi pada hasil dan produktivitas.

Kita tidak bisa mengarahkan cara yang terbaik untuk seseorang. Tapi apa yang dituju oleh seseorang itu yang kita jadikan sebagai acuan. Karena untuk mencapai kesuksesan akan ada berbagai macam cara sedangkan tujuan harus kita capai. Apapun yang menjadi cara kita, apapun yang akan menjadi gaya kita sepanjang itu menghasilkan dan menunjukkan produktivitas, maka hal itu menjadi sah sah saja. Sebagai seorang pebisnis, ketika kita mengatur dan menahkodai sebuah perusahaan, maka jangan terjebak dengan apa yang menjadi cara tetapi kita harus fokus dengan apa yang akan dihasilkan. Waktu, tempat, dan jarak tidak lagi menjadi ukuran untuk seseorang bisa berkreasi. Pada era mendatang, era dengan berbagai macam konektivitas, dimana setiap orang terhubung dengan internet dengan kecepatan yang tinggi, maka waktu, tempat, dan jarak tidak menjadi halangan. Mungkin kita tidak perlu ada di kantor setiap hari dan mungkin kita tidak perlu juga harus melihat karyawan kita seriap hari. Tetapi kita bisa melihat apa yang mereka hasilkan, apa yang mereka produksi, apa yang mereka kreasikan. Itu lebih utama dibandingkan cara apa yang mereka lakukan.

Penting ! Ini rahasia menghadapi krisis dalam pertumbuhan bisnis

Pada siang hari ini, hari dimana kita sebagai muslim laki-laki selalu menjalankan ibadah shalat jum’at dan insyaAllah hari ini adalah hari yang penuh keberkahan buat kita,terutama buat umat islam. Hari ini saya akan berbagi tentang pertumbuhan dan krisis. Pada waktu awal bisnis kita membangun dan masih dalam skala yang kecil , maka kita selalu merasakan bahwa segala sesuatu yang terjadi sebagian besar adalah timbul dan berjalan dengan kreativitas yang kita miliki sebagai pemilik. Ketika kreativitas itu akhirnya dapat memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan bisnis yang kita miliki, maka biasanya terjadi sebuah krisis yaitu krisis kepemimpinan. Dimana seorang pemilik kadang tidak memiliki kemampuan leadership yang baik sehingga tim yang sudah terbentuk, tidak begitu optimal, tidak begitu bisa digerakkan, sehingga produktivitas mereka menurun. Ketika produktivitas menurun, maka hal itu akan mengancam pertumbuhan. Hal yang biasanya kita lakukan sebagai pemilik adalah kita mengangkat atau mencari seorang pemimpin.

Pada beberapa perusahaan yang dimiliki oleh pribadi yang mengalami krisis kepemimpinan, mereka kemudian mencoba mencari profesional yang bisa memimpin dan memperbaiki perusahaan yang dia miliki. Ketika kepemimpinan sudah didapat dan pertumbuhan perusahaan kembali berkembang, maka seorang pebisnis akan mengharapkan seorang pemimpin itu memberi arahan, sehingga perusahaan akan bertumbuh dari arahan seorang pemimpin. Perusahaan akan bertumbuh dengan arahan-arahan yang baik sesuai strategi dan direction yang akan memberikan kejelasan dari arah sebuah perusahaan. Namun apa yang terjadi biasanya setelah perusahaan bertumbuh dengan direction yang jelas, maka terjadi lah krisis lagi dimana seorang pemimpin biasanya kemudian dia sudah memiliki pemimpin-pemimpin dibawahnya. Dia memiliki manager dan supervisor dibawahnya. Maka yang akan terjadi adalah sebuah krisis yang disebut krisis otonomi. Dimana setiap manajer merasa bahwa mereka membutuhkan kebebasan. Mereka membutuhkan sebuah ruang yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan ide-ide mereka. Ketika hal itu tidak dapat dipenuhi, maka biasanya perusahaan akan mengalami penurunan produktivitas. Dan pada saat itulah, ketika terjadi krisis otonomi. Kita berusaha melakukan revolusi dengan memberikan otonomi kepada pemimpin-pemimpin dibawahnya. Dengan memberikan otonomi tersebut, maka pertumbuhan itu akhirnya terjadi dengan memberikan delegasi-delegasi. Delegasi pekerjaan, delegasi otoritas, delegasi kepemimpinan kepada pemimpin-pemimpin dibawahnya. Ketika hal itu sudah terjadi, maka biasanya perusahaan akan terus bertumbuh. Karena dengan pendelegasian itu, setiap orang memiliki kepercayaan diri yang kuat dan memiliki kemampuan untuk bisa membangun kreativitas dan membangun visi mereka di dalam perusahaan.

Ketika pertumbuhan melalui delegasi ini berjalan, maka akan terjadi krisis berikutnya yaitu krisis controlling. Delegasi yang begitu kuat menimbulkan kepercayaan yang begitu kuat. Ada sisi lain yang biasanya lupa dari sebuah institusi sebuah perusahaan yaitu sistem kontrol. Dari sini biasanya terjadi penyimpangan-penyimpangan. Karena kita tidak mengetahui apa yang dilakukan bawahan-bawahan kita. Kita tidak bisa lagi memantau apa yang dilakukan pemimpin-pemimpin dibawah, yang mana mereka memiliki hak untuk melakukan sesuatu dengan otoritas yang telah kita berikan. Pertumbuhan dengan krisis kontrol ini biasanya diselesaikan dengan melakukan revolusi lagi yaitu dengan koordinasi. Maka dibangun lah sistem yang canggih yaitu sistem koordinasi dimana setiap layer dari organisasi, mereka harus meminta persetujuan dari layer-layer di atasnya. Namun hal ini menyebabkan krisis baru yaitu krisis birokrasi. Karena semakin besar perusahaan, maka semakin panjang jalur birokrasi yang harus kita jalankan. Sehingga perusahaan itu tidak flesibel. Perusahaan itu tidak memiliki kebebasan. Perusahaan itu tidak bisa berkompetisi dengan baik dan akhirnya yang terjadi adalah inovasi dan kreativitas yang juga akan menurun. Hal ini yang menyebabkan perusahaan akan jatuh apabila tidak diatasi dengan baik.

Untuk mengatasi krisis birokrasi yang dialami oleh sebuah perusahaan, maka saat ini kita melihat trend baru didalam organisasi bisnis. Mereka tidak memaksakan diri untuk besar dengan menggunakan sistem koordinasi, karena akhirnya koordinasi itu akan menghambat perjalanan mereka sendiri. Maka sistem yang dibangun sekarang adalah dengan melakukan kolaborasi. Apa itu kolaborasi? Kolaborasi tidak lagi menggunakan kontrol yang sifatnya formal untuk membangun sebuah bisnis. Tapi kontrol sosial dan kedisiplinan pribadi akan menggantikan kontrol formal yang selama ini kita ketahui. Selain itu, pertumbuhan yang diberikan oleh sistem kolaborasi ini adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan spontanitas tindakan. Kita akan bertindak dengan cepat apabila sebagian besar perusahaan yang ada dalam sistem kolaborasi tersebut menganggap bahwa suatu bisnis/proyek dapat dikerjakan bersama-sama dengan resources yang mereka miliki dan mereka berkolaborasi untuk menghasilkan capaian bersama. Dengan sistem kolaborasi, pengelolaan tim lebih besar kepada bagaimana mereka menyelesaikan masalah perbedaan individu didalam sebuah kolaborasi tersebut.

Luangkan waktu anda selama 3 menit untuk belajar tentang waktu

Pada kesempatan ini, saya sedang berada di sebuah eksekutif room di salah satu hotel d kota Depok. Saya baru saja menyelesaikan sebuah meeting besar yang melibatkan beberapa temen bisnis. Dua hari yang lalu, saya memimpin sebuah perhelatan dari sebuah organisasi pengusaha-pengusaha outsourcing yang ada d indonesia. Saya memimpin musyawarah nasional untuk memilih ketua umum dan mendengarkan pertanggungjawaban dari ketua umum sebelumnya. Apa yang saya tangkap dari kegiatan saya beberapa hari ini adalah saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh manusia pada intinya adalah berbicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ketika seseorang berbicara tentang masa lalu, maka hal yang muncul adalah suatu keberhasilan, kesuksesan, kegagalan, ataupun kekecewaan. Ketika berbicara tentang masa kini, maka mereka berbicara tentang apa yang mereka dapat lakukan secara baik dan maksimal. Dan ketika berbicara tentang masa depan, maka seseorang akan menunjukkan mimpi,rencana, dan capaian yang akan dihadirkan beberapa tahun kedepan.

Berbicara tentang masa lalu, kita selalu merasa bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali dan masa depan tidak akan pernah kita ketahui. Yang bisa kita jalankan hari ini adalah masa kini, dimana masa kini adalah masa dimana kita harus memaksimalkan kinerja yang dapat kita lakukan. Apa yang kita dapat hari ini adalah apa yang kita kerjakan di masa lalu.
Masa lalu tidak akan pernah kembali. Keberhasilan ataupun kegagalan dimasa lalu bukan berarti akhir dari segalanya. Setiap keberhasilan memunculkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dan ketika kita mendapatkan kegagalan, bukan berarti kita tidak akan mendapatkan kesuksesan. Namun kita bisa belajar dari kegagalan itu. Berusaha untuk bekerja lebih baik dan merencanakan mimpi-mimpi di masa depan.

Cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih baik dari masa lalu adalah kita harus bisa menikmati hidup ini apapun kondisinya. Kemudian cobalah untuk sebanyak mungkin berbicara dengan imajinasi kita. Albert einsten, salah satu ilmuwan penemu nuklir mengatakan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang terbatas, tetapi imajinasi tidak pernah akan terbatas. Dengan imajinasi kita dapat merubah dunia, diri kita, dan apapun yang kita inginkan.

Kita harus bisa berdamai dengan masa lalu, memaksimalkan apa yang kita miliki di masa kini dan menyusun dengan baik perencanaan di masa depan. Munculkan imajinasi-imajinasi baru yang memberikan manfaat kepada kita, orang-orang disekitar kita serta masyarakat dunia secara luas.

Percaya atau tidak, inilah pentingnya kehadiran anda dalam bisnis

Hari ini adalah hari Jum’at. Hari yang berkah buat kita semua. Dalam kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi tentang salah satu dari faktor kesuksesan dalam berbisnis. Setiap pengusaha selalu merasa bahwa bisnisnya cepat berkembang dan ingin cepat meninggalkan bisnis itu sehingga dia bisa memiliki banyak waktu luang dan kebebasan dalam keseharian mereka. Namun dalam hal bisnis, salah satu hal penting yang harus kita perhatikan adalah present atau kehadiran. Dimana seorang pebisnis, harus memiliki kemampuan untuk hadir didalam bisnisnya sendiri. Maksud hadir dalam bisnisnya sendiri adalah bahwa dia harus memantau, mengawasi, kemudian memperhatikan apa yang terjadi dalam bisnisnya.

Permasalahan present atau kehadiran ini bagi para pebisnis pemula kadang menjadi momok yang membuat mereka merasa bahwa bisnis tidak semudah dengan apa yang mereka bayangkan. Ketika mereka awal berbisnis, mereka selalu berpikir bahwa dengan berbisnis, mereka memiliki banyak keluangan waktu, kreativitas dan banyak hal yang dia bisa lakukan dengan waktu yang lebih fleksibel. Namun kenyataannya banyak pebisnis yang akhirnya terperangkap didalam bisnisnya sendiri dan terus berputar-putar sehingga mereka bahkan telah menghabiskan waktu yang lebih banyak dibanding ketika mereka dulu belum berbisnis.

Lalu apa yang dimaksud dengan present atau kehadiran itu? Present atau kehadiran adalah suatu upaya dari seseorang dalam berbisnis, dimana mereka sebenarnya harus bisa mengontrol bisnisnya. Itu yang terpenting. Karena kontrol adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan ketika kita berbisnis. Present atau kehadiran tidak tidak selalu bahwa seseorang itu harus selalu duduk dan berada didalam bisnisnya setiap hari, setiap waktu, setiap jam, atau bahkan setiap detik. Present dalam hal ini adalah bagaimana secara fisik seorang pebisnis tidak berada di dalam kantor, tetapi siapapun didalam perusahaan itu merasa bahwa kita hadir disana.

Present secara umum adalah kita harus memiliki 4(empat) hal. Pertama mencatat peluang-peluang yang bisa kita miliki. Di dalam bisnis, banyak sekali peluang yang bisa hadir. Kesempatan buat kita mengambil keputusan terhadap peluang yang ada. Kedua, kita sebagai pebisnis harus mengembangkan bakat dan minat kita. Bakat adalah sesuatu yang kita miliki sejak lahir, sedangkan minat adalah apa yang kita inginkan. Ketiga adalah bahwa kita harus menggunakan naluri kita. Naluri terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki untuk mengolah data. Dengan begitu, naluri akan membantu kita untuk hadir dalam bisnis kita. Dan yang keempat adalah pemasaran. Setiap kita harus fokus pada pasar. Sebagai pebisnis, kita harus mengetahui pasar dan memahami dimana kita harus menjual dan apa yang bisa kita jual.

Dalam berbisnis, salah satu upaya yang harus kita lakukan adalah kita harus memiliki sistem kontrol yang baik. Sebagai contoh, untuk bisnis pemula seperti UKM, hal yang perlu dimiliki adalah laporan keuangan. Minimal kita harus memiliki satu saja profit loss atau laba rugi. Itu sudah cukup untuk mengetahui perkembangan bisnis kita dan kita bisa mengontrol apakah rencana-rencana kita tetap berjalan sesuai yang ditetapkan.

Begini cara saya meningkatkan pertumbuhan bisnis berkali-kali lipat

Dipagi yang sejuk dan cerah ini, saya ingin berbagi kepada teman-teman semua tentang sesuatu yang penting dalam kehidupan kita sebagai seorang pebisnis. Kali ini, saya akan membicarakan topik tentang menetapkan standard yang tinggi terhadap target. 13 tahun lalu, ketika pertama kali saya membangun bisnis, beberapa pemegang saham mempertanyakan apakah bisnis saya akan bisa berjalan dan berlanjut sampai beberapa tahun kedepan. Saya katakan pada mereka bahwa saya punya keyakinan bisnis ini akan berjalan dan terus berjalan. Ketika ada keragu-raguan didalam lingkungan dan orang-orang sekitar saya, maka saya pada saat itu sudah menetapkan standard yang tinggi terhadap apa yang akan saya capai beberapa tahun kedepan.

Saya masih ingat ketika saya mengatakan kepada pemegang saham bahwa bisnis ini akan berkembang 5x lipat dalam periode 4 tahun. Secara perhitungan, saya harus membesarkan bisnis ini dengan pertumbuhan sebesar 40% setiap tahunnya. Sebagian orang meragukan apa yang saya ucapkan dan apa yang saya tetapkan untuk standard yang saya miliki. Namun saya punya keyakinan bahwa ketika saya memiliki keinginan, maka hal itu bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

10 tahun berjalan, saya membuktikan apa yang saya targetkan. Ketika saya membangun bisnis, omzet saya pada saat itu hanya sekitar 30 juta/bulan. Setelah 10 tahun kemudian, omzet saya sudah mencapai 15-20 miliar/bulan. Nilai itu lebih besar dari Apa yang saya tetapkan sebagai sebuah standard. Dan secara bisnis, saya size bisnis saya sudah mencapai 30 kali lipat dari ketika pertama kali bisnis itu dibuat. Ini membuktikan bahwa, ketika menetapkan sebuah standard yang tinggi, maka energi kita, urat-urat tubuh, pemikiran, proyeksi, mimpi-mimpi, dan semua orang disekitar kita akan menular dan membentuk sebuah energi yang besar untuk mencapai standard yang kita tetapkan.

Semua orang memiliki opini mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan dan bagaimana melakukannya. Oleh kebanyakan orang, ada yang bermaksud baik dan sering kali menawarkan saran yang masuk akal kita. Akan tetapi, mereka belum tentu mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Kenikmatan utama dalam berbisnis adalah kemampuan menerapkan visi dan kreativitas sendiri serta mengekspresikannya. Saya melakukannya dengan membangun sebuah bisnis dan membesarkannya dengan lebih berani, lebih baik, dan lebih besar. Bagaimana sebuah bisnis beroperasi, kualitas barang atau kualitas jasa yang diberikan, tentunya dimulai dari atasan, kemudian mengalir ke seluruh bagian organisasi. Demikian apa yang saya lakukan dan saya terapkan selama ini. Mudah-mudahan bermanfaat

Bagaimana Membuat Pekerjaan Anda Tidak Terasa Seperti Sebuah Pekerjaan

Dalam kesempatan ini ditemani secangkir teh hangat, saya ingin berbagi kepada sahabat semua. Kali ini saya ingin membahas topik tentang perihal produktivitas kita terhadap pekerjaan yang tidak kita sukai. Saya senang menolong dan berbagi terhadap sesama. Motif saya adalah bagaimana saya bisa memberi manfaat dan memberi solusi bagi banyak orang. Karena pada dasarnya, siapa yang tidak suka untuk bisa memberikan kebermanfaatan yang banyak untuk orang lain.

Saya suka coaching, membantu memahami permasalahan banyak orang terhadap bisnis atau pekerjaan mereka. Saya sangat menyukai pekerjaan ini. Dengan begitu, Saya melakukannya dengan sangat semangat, antusiasme dan kegairahan. Pekerjaan ini tidak terasa seperti sebuah pekerjaan bagi saya. Gairah saya menular kepada orang-orang di sekitar saya dan memotivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. Pada satu titik diantara masa kanak-kanak dan dewasa, salah satu dari dua hal bisa terjadi pada diri seseorang. Dia mulai mengikuti impian orang tua, tetangga, atau seseorang yang dia cintai. Dia mulai terjebak dalam mengejar uang dan status yang diasosiasikan dengan karir tertentu. Dia melakukan ini karena tanpa gairah mereka sendiri. Pada akhirnya, dia menjadi salah satu dari 70% orang yang tidak menyukai pekerjaan mereka.

Gairah sangatlah penting untuk mencapai segala macam kesuksesan yang abadi. Saya mengetahuinya dari pengalaman. Jika kita tidak memiliki gairah dalam suatu bidang, apapun yang kita lakukan pada akhirnya akan menguap atau setidaknya menjadi biasa-biasa saja. Mulailah untuk menjalankan seluruh atau sebagian besar hidup, untuk mencintai pekerjaan kita. Tujuan adalah agar sepenuhnya dapat berdedikasi pada pekerjaan tersebut dan meraih kesuksesan yang di inginkan.

Kesalahan Sederhana Tapi Fatal yang Bisa Menghancurkan Bisnis Anda

Saya mempunyai rekan kerja di Organisasi Bisnis Alhidayah Indonesia. Dimana dia juga sama seperti saya, pengusaha outsourcing di Indonesia. Setahun yang lalu, dia mengatakan bahwa bisnisnya sedang tidak baik. Dia sedang membutuhkan suntikan modal baru. Dia menawarkan kepada saya untuk menjadi investor atau mengambil alih perusahaan. Saya tidak begitu saja percaya pada saat itu dan saya coba meminta data-data dan pembukuan yang dia miliki. Namun saya cukup terkejut, karena dia tidak memiliki pembukuan. Dia tidak memiliki pencatatan yang baik, sehingga saya tidak bisa menentukan apakah kinerja perusahaan ini baik atau buruk. Kemudian dia mengatakan bahwa dia bisa memberikan data-data kontrak dan invoice yang outstanding. Saya katakan padanya, bahwa pencatatan itu sangatlah penting bagi kinerja sebuah perusahaan. Lalu dia mengatakan bahwa dia hanya butuh modal untuk menggulirkan bisnis ini. Kemudian saya meminta dia untuk menunjukkan invoice-invoice yang ada saat ini.

Saya kembali dibuat terkejut. Setelah saya lihat dibawah invoice-invoice yang ada, bank yg dicantumkan dalam invoice adalah bank dengan nama perusahaan yang berbeda, bukan perusahaan dia sendiri. Kemudian saya menanyakan terkait hal ini. Dia katakan bahwa invoice yang dia miliki sebenarnya sudah digadaikan juga kepada pihak lain. Lalu saya bertanya lagi terkait apakah dia memiliki sesuatu untuk dijadikan jaminan bahwa perusahaannya mampu mengembalikan investasi yang ada. Dia menjawab bahwa dia memiliki banyak potensi-potensi bisnis. Dia mempunyai potensi bisnis pengiriman tenaga kerja ke jepang, bisnis uji psikotes dan dia menjabarkan potensi-potensi bisnis yang lainnya.

Akhirnya saya katakan bahwa dengan kondisi seperti ini, nampaknya sulit untuk berinvestasi pada perusahaannya. Saya menawarkan solusi untuk menutup perusahaan itu dan dia membangun perusahaan yang baru. Lalu saya menawarkan diri apabila itu yang dilakukan, maka saya mau berinvestasi. Akan tetapi, dia menyayangkan jika perusahaan ini harus ditutup. Alasannya karena perusahaan ini sudah lama dan sudah berjalan cukup baik.  Kemudian saya sampaikan pendapat saya, bahwa perusahaan ini hanya tinggal menunggu akhirnya dan masa dimana perusahaan ini akan bangkrut.

Hari ini, saya bertemu dengan rekan saya ini dalam pertemuan munas pemilihan ketua umum sebuah organisasi. Dia nampaknya tidak berani berbicara dengan saya. Karena beberapa hari yang lalu, dia mengirim pesan melalui Whatsapp yang menyatakan bahwa rumahnya sekarang dalam proses lelang oleh bank. Hampir selama 6 bulan lebih, dia tidak sanggup untuk membayar cicilan kepada bank.

Dari cerita diatas ada yang bisa kita pelajari, bahwa segala sesuatu yang dulu kita anggap sebagai suatu hal yang tidak terlalu penting, mungkin itu menjadi sesuatu yang penting dan jadi prioritas. Pencatatan dan pembukuan adalah hal yang penting untuk kita miliki sebelum mengembangkan perusahaan dan menggali potensi penjualan yang kita punya. Karena tanpa pencatatan, kita tidak tahu kemana arah kita. Seperti saat kita berjalan, kita tidak tau arah tujuan kita dan akhirnya kita tersesat. Pengalaman ini saya bagikan, agar kita bisa memahami bahwa pembukuan, pencatatan, dan pemahaman kita terhadap keuangan merupakan suatu hal yang penting. Sehingga langkah-langkah kita lebih strategis dan terarah. Sehingga kesuksesan kita, akan terukur dengan baik.

Inilah Alasan Kenapa Saling Percaya dalam Tim Itu Penting

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi tentang apa itu coaching. Beberapa hari yg lalu, ketika saya mengantarkan anak saya yang kedua untuk ujian masuk di sebuah pesantren di daerah cibubur, saya bertemu dengan seorang bapak yg sedang menunggu anaknya juga. Kemudian kita mengobrol dan menanyakan tentang pekerjaan masing-masing. Ternyata bapak itu adalah seorang GM di sebuah perusahaan asing di jakarta.

Dia mengatakan bahwa dia punya masalah dengan timnya. Ketika dia mendelegasikan suatu pekerjaan kepada karyawannya, dia merasa bahwa karyawannya tidak terlalu maksimal dalam mengerjakannya. Sehingga dengan target yang cukup dekat, maka dia mengambil alih lagi pekerjaan yg telah di delegasikan kepada karyawannya. Dia merasa bahwa hal ini sangat menganggu dan membebani dirinya.

Setelah dia bercerita tentang masalahnya, kemudian saya bertanya mengapa dia melakukan itu. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin terlihat buruk oleh atasannya yang telah memberikan beban dan tugas itu. Selain itu, dia merasa waktu yang dia habiskan di kantor banyak dihabiskan dari satu meeting ke meeting yang lainnya. Dia hanya sempat menyelesaikan pekerjaannya dimalam hari. Dia merasakan bahwa ini tidak efektif karena waktu kerjanya yang semakin panjang.

Kemudian dia menanyakan kepada saya, “kira-kira apa yang bisa dilakukan?”. Sebelumnya, saya mengenalkan diri saya bahwa saya adalah coach bisnis. Saya tidak hanya membantu karyawan untuk mengerti apa yang harus mereka lakukan. Tapi saya bertugas untuk memberikan pemahaman bahkan mentransformasi diri mereka. Menjadi sesuatu atau menjadi pribadi yang lebih baik dikemudian hari.

Dari penjelasan singkat tentang profesi saya, dia merasa tertarik lalu dia mengatakan kalo dalam kondisi semacam itu, apa yang harus dia lakukan. Saya katakan bahwa sebenarnya permasalahan itu terjadi bukan karena masalah pekerjaan atau tim, tetapi yang terjadi adalah karena mindset dari bapak sebagai pribadi. Dia kaget dan dia mengatakan “kenapa harus saya?”. Lalu saya jawab, “karena pada dasarnya, apa yang bapak lakukan, adalah salah satu wujud dari bapak yang tidak memiliki kepercaaan terhadap tim. Dan bapak merasa bahwa hanya bapak yang bisa melakukan dan menyelesaikan pekerjaan itu”.

Dari penjelesan saya tadi, dia kembali bertanya, “apa yang solusinya?”. Saya katakan bahwa harus ada proses coaching yang tidak hanya pada diri bapak, tetapi pada atasan dan kepada karyawan bapak. Karena pada dasarnya, tidak hanya bapak yang berada pada suatu proses pekerjaan tersebut, ada atasan dan karyawan yang terlibat. Dan proses coaching, bukan hanya proses untuk memberikan pemahaman, mentoring, atau konsultasi, tetapi coaching pada intinya ada 2 hal yaitu bertanya dan mendengarkan. Peran saya sebagai coach dalam hal ini adalah hanya seperti sebuah kaca. Dimana bapak bisa bercermin. Bapak bisa melihat. Dimana yang tidak cocok dan sesuai menurut pemahaman dan pengertian bapak saat ini.

Setelah pembicaraan ini, dia sangat tertatik dengan apa yang saya sampaikan. Kemudian dia meminta nomor hp saya. Dia katakan bahwa suatu saat nanti, saya harus menghubungi bapak dan meminta bantuan untuk memperbaiki tim. Dan memperbaiki kinerja dalam organisasinya.

Transformasi Leading

Saya sekarang berada di Hotel Salak Bogor, setelah kemarin menghadiri dan memimpin rapat pemilihan ketua umum Asosisasi Bisnis Alhidayah Indonesia. Ada satu hal yang ingin saya bagikan untuk sahabat semua. Yang mana masih banyak orang yang berpikir untuk berbisnis hanya menjual barang atau jasa. Faktanya barang atau jasa aja tidak cukup untuk menarik konsumen atau pelanggan. Maka pada saat ini, ada sebuah trend yang disebut dengan “Experience” atau pengalaman. Jadi, berbisnis yang tidak hanya menjual barang atau jasa, tetapi juga menjual sebuah experience atau pengalaman.

Ketika kita minum kopi di Starbuck, maka kita tidak hanya minum kopi tetapi juga kita membeli pengalaman. Pengalaman untuk bersosialisasi, pengalaman untuk memberikan tempat pada diri kita supaya bisa memahami bahwa kita sedang diberi pengalaman baru yaitu minum kopi sambil duduk di tempat yang nyaman.

Ketika kita tinggal disebuah hotel, maka kita tidak hanya tidur didalam kamar. Karena tidak ada bedanya hotel dengan rumah. Namun di hotel kita mengalami sebuah pengalaman dimana pengalaman itu memberikan kesan. Maka, pengalaman itulah yang sebenarnya kita beli.

Setiap orang merasakan bahwa pada saat ini, barang dan jasa yang kita beli, semua menawarkan pengalaman, bahkan pengalaman-pengalaman baru yang mungkin tidak pernah kita alami sebelumnya. Namun ada satu hal yang lebih penting dari sebuah pengalaman ketika kita menjual barang atau jasa, yaitu kita menawarkan sebuah transformasi.

Transformasi merupakan sesuatu yang lebih dashyat menurut saya. Karena transformasi dapat merubah segalanya. Dari sesuatu yang dulu biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang luar biasa. Yang dulu merubah suatu karakter yang mungkin tidak terlalu baik, menjadi sebuah karakter yg lebih baik. Transformasi dapat menciptakan suatu lingkungan yang mungkin tidak terlalu baik menjadi lebih baik bahkan sangat baik sekali. Itulah yg disebut dengan transformasi. Di era kedepan, produk barang atau jasa yang dibundling dengan experience tidak cukup, pemilik barang atau jasa harus menawarkan sebuah transformasi. Transformasi dalam kehidupan dan keberadaan kita sebagai manusia di dunia ini

Sekian

Widiantoro Baroto