Ternyata, ini dampak dari sikap sok tau terhadap diri kita !

Saya ingin berbagi tentang bagaimana membuang rasa sok tau kita. Rasa sok tau adalah sesuatu yang biasa kita hadapi dan biasa kita lakukan terhadap orang lain. Ketika ada orang yang ingin memberitahu sesuatu, tiba-tiba kita memotongnya seolah-olah kita sudah tau dan akhirnya keliru. Sikap ini bukan monopoli anak muda tapi juga sering menghinggapi orang dewasa baik dia pintar ataupun bodoh, baik dia rajin ataupun pintar. Sikap sok tau ini banyak dimiliki oleh banyak orang, tidak peduli latar belakangnya. Sikap sok tau ini bisa menjadi perangkat yang sangat mematikan.

Orang yang sok tau akan lebih banyak berbicara daripada mendengarkan. Kuncinya adalah ternyata menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah. Butuh kebijaksanaan sikap yang luar biasa yang mampu menyingkirkan ego dasar kita. Sifat ego mendasar manusia yang selalu ingin didengarkan dan diperhatikan yang menjadi penyebab seseorang itu kadang menjadi sok tau. Dia lupa bahwa ego ingin selalu didengar itu harus diimbangi oleh orang lain yang mau mendengarkannya. Dengan kita menghilangkan rasa sok tau kita, saya berani menjamin bahwa anda akan menjadi orang yang lebih bijaksana, menjadi yang lebih banyak mendengarkan, dan otomatis akan membuat otak anda lebih banyak terisi .

Intinya adalah kosongkan otak anda ketika anda berhadapan dengan orang lain maka anda akan mendapatkan banyal hal yang baru dari kehidupan anda. Anda akan selalu kembali mengosongkan otak tersebut dan menyisihkan sikap sok tau dan terus menjadi pendengar yang baik. Ingat, selain memiliki dampak positif terhadap langkah langkah kedepan anda. Jadi pendengar yang baik juga memiliki efek samping yang dahsyat dan anda akan lebih disukai oleh orang di sekeliling anda.

Ketahuilah mental pemenang yang harus anda dimiliki

Saat ini kita banyak melihat fenomena di negara kita pasca pemilihan presiden dimana masing-masing kita merasa bahwa pemimpin yang kita pilih adalah pemimpin yang memenangkan pertarungan dalam pilpres ini. Ada sesuatu yang perlu kita ketahui, seperti apakah mental orang yang berpikir  dan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemenang? Hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang pemenang adalah berani mengakui kesalahan. Setiap melakukan sesuatu lalu ternyata salah, kita dengan jantan mengakui kesalahan itu. Kita tidak pernah mencari kambing hitam. Bagi kita, kesalahan-kesalahan tidak bisa ditebus dengan alasan apapun. Justru dari kesalahan tersebut, kita bisa belajar banyak untuk mencoba lagi dan memperbaiki kesalahan tersebut. Lawan daripada sifat menerima kesalahan adalah sifat membantah yaitu selalu menolak disalahkan dengan seribu satu alasan dan biasanya mencari kambing hitam.

Hal kedua yang harus dimiliki seorang pemenang adalah bertanggung jawab. Memang sangat tipis perbedaan antara berani mengakui kesalahan dan berani menanggung resiko atau tanggung jawab. Resiko itu sesungguhnya adalah kesalahan. Akan tetapi tidak semua kesalahan adalah resiko. Jadi calon pemenang, harus berani menanggung semua resiko terhadap apa yang dibuatnya. Bila mental pertama sudah dimiliki yaitu dengan mengakui kesalahan, maka lebih mudah untuk membuat perilaku kita lebih bertanggung jawab.

Hal ketiga yang harus dimiliki oleh seorang pemenang adalah bisa dipercaya atau akuntabel. Segala perbuatan bisa dibuktikan kebenarannya. Dia berjalan diatas rel sesuai aturan. Sesuai dengan janjinya. Sesuai dengan perkataannya. Dia tidak pernah bohong dan tidak pernah mencurigai orang lain. Semuanya bisa dipertanggung jawabkan. Tiga mental ini saling terkait dan saling mempengaruhi. Satu saja tidak dimiliki, maka orang itu tidak memiliki mental pemenang. Dari 3 hal mental seorang pemenang, kita bisa menyatakan bahwa seseorang yang melakukan apapun tentang kecurangan, segala apapun yang dilakukan dengan kebohongan, walaupun dia mendapatkan kemenangan itu, pada dasarnya dia sedang menggali kekalahannya. Dia sedang menggali kehancurannya. Maka bagi kita yang mengetahui mental pemenang adalah kita harus mengakui kesalahan, bertanggung jawab dan dapat dipercaya

Mau seperti apa kamu nanti, coba cek disini

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang apoteker bernama mary. Dia bekerja sebagai apoteker di sebuah jaringan apotek besar. Suatu hari ketika dalam sebuah sesi coaching, saya mencoba bertanya padanya “ Seberapa senang kamu dengan pekerjaan yang kamu jalani saat ini ?“ lalu dia menjawab “ Oh saya senang sekali dan baik-baik saja” bahkan dia mengatakan “saya puas dengan salary dan komisi yang saya dapat, bahkan perusahaan memberikan bagi hasil profit yang cukup besar”.

Dia juga mengatakan “ini keberuntungan besar buat saya dan saya akan pensiun dini di usia muda untuk menikmati hidup saya“

Saya terdiam sebentar dan kemudian bertanya lagi “Apa yang menjadi mimpi kamu ketika memutuskan ingin menjadi seorang apoteker?”

dia menjawab “ Saya membayangkan diri saya berada di dalam apotik milik saya sendiri”

Kemudian saya mengatakan “Kenapa tidak mengikuti mimpi kamu aja? Bukankah itu akan membuat kamu lebih produktif dan senang?”

Dia menjawab “bagaimana saya bisa melakukannya ?

Saya katakan “ Apapun yang kamu anggap nyata, maka kamu dapat mewujudkannya”

Kemudian dia (mary) membayangkan bahwa dia sekarang ada di Apotek miliknya sendiri. Secara mental, dia menggambarkan dirinya sedang melayani pelanggan di apotik miliknya. Seperti seorang aktor dia berbicara dengan dirinya sendiri dan bertindak seakan akan dia bergerak, hidup dan berperilaku sebagai pemilik apotek tersebut.

Beberapa tahun kemudian, mary mengirim pesan kepada saya dan mengatakan apa yang terjadi terhadap dia setalah sesi coaching yang pernah dia lakuan bersama saya. Dia kemudian bercerita bahwa dia sudah berpindah kerja sebagai medical representative sebuah perusahaan farmasi dan menjadi area sales manager yang melingkupi beberapa apotik di beberapa kota.

Ada sebuh kota kecil yang ternyata hanya ada satu apotek dan pemiliknya sudah sangat tua dan dia berminat untuk menjual apotek tersebut. Mary membayangkan kembali dia berdiri dan melayani konsumen di apotek miliknya sendiri. Dengan imajinasi yang dia miliki, maka Mary mencoba untuk berbicara dengan sang pemilik. Ternyata sang pemilik mengizinkan mary untuk membeli apotek tersebut dengan bayaran profit yang dihasilkan dari apotek tersebut.

Jadilah mary memiliki apotek sendiri dan dia bekerja keras untuk menghasilkan profit untuk membayar harga yang di tawarkan sang pemilik lama.

anyak dari kita fokus pada apa yang sedang kita kerjakan (doing) bukan ingin seperti apa kita dikemudian hari (being). Ada cara untuk menentukan ingin seperti apa kita dikemudian hari. Pertama dengan mencari pekerjaan yang membuat kita enjoy dan relax melakukannya, kemudian Berbicaralah sebanyak mungkin dengan imajinasi anda.

Ilmu yang kita pelajari sangatlah terbatas namun imajinasi tidak akan pernah ada batasnya 

Disadur dari buku “ The Power of Your Subconcious Mind“ karya Dr. Joseph Murphy

Jangan sampai anda terpenjara mindset ini

 

Dalam sebuah sesi coaching, saya menanyakan kepada coachee mau seperti apa dia beberapa tahun kedepan. Jawabnya “belum tahu” dan dia ingin semuanya mengalir saja. Jawaban “Belum tahu” dan “mengalir saja” menjadi jawaban yang sering ditemukan ketika kita menanyakan “Mau seperti apa anda beberapa tahun ke depan?”

Seperti kebanyakan dari kita yang sangat takut untuk menyebutkan mimpi dan keinginan kita di masa depan, Alasannya karena takut tidak terlaksana dan membuat kecewa. Mindset takut kecewa dipengaruhi beberapa faktor diantaranya:

  • Pengalaman masa lalu yang membuat kecewa
    Masa lalu kita di penuhi dengan kekecewaan. Ikut ujian tidak lulus, buka usaha ditipu orang, beli tanah sertifikat palsu, pinjam meminjam tidak amanah, bahkan trauma masa kecil yang terbawa sampai saat ini dan membentuk mindset kita.
  • Informasi yang diterima
    Salah satu sumber informasi yang masuk adalah bahan bacaan atau buku. Kalau kita suka membaca buku motivasi atau portal bisnis yang memuat banyak motivasi maka itu akan membentuk mindset kita di kemudian hari. Sedangkan membaca novel percintaan yang penuh kekecewaan dalam jangka panjang akan mempengaruhi mindset kita. Maka berhati-hatilah memilih bahan bacaan.
  • Lingkungan penuh kekecewaan.
    Dengan siapa kita bergaul akan mempengaruhi mindset juga. Apabila kita bergaul dengan sekumpulan orang yang sering patah hati dan kecewa, maka isi percakapan dengan mereka adalah rasa kekecewaan dan patah hati. Apabila kita berkumpul dengan orang yang selalu positif maka hawa positif juga akan datang secara tidak langsung. Pilihlah komunitas yang selalu optimis maka anda akan selalu positif.